Kita tidak tahu bagaimana hari esok, yang bisa kita lakukan ialah berbuat sebaik-baiknya dan berbahagia pada hari ini.
Sabtu, 07 Februari 2009
Legenda Raja Sisingamangaraja XII
Pada tahun 1875 Patuan Bosar yang kemudian digelari dengan Raja Ompu Pulo Batu, ditabalkan menjadi Si Sisingamangaraja XII di Bakara. Si Singamangaraja XI (Ompu Sohahuaon), ayahanda Si Singamangaraja XII, nyatanya telah berfungsi sebagai Raja-Imam Batak dalam tenggang waktu yang lama sekali (50 tahun), yaitu dari tahun 1825 hingga tahun 1875, yakni setelah Tuanku Rau, penganjur aliran wahhabi itu membunuh Si Singamangaraja X (Ompu Tuan Nabolon) pada tahun 1825 di dekat Siborong-borong.
Menurut adat istiadat Batak, putra tertua dari suatu keluargalah yang diutamanakan melanjutkan pekerjaan dan fungsi orang-tuanya, khususnya di bidang adat dan pemerintahan. Karena itulah maka penduduk di Bakara dan sekitarnya ingin menabalkan Ompu Parlopuk menjadi Si Singamangaraja XII. Tetapi karena untuk dapat menjadi Si Singamangaraja, seseorang harus mempunyai ciri-ciri kharismatis pula. Persyaratan itu harus dapat dipenuhi oleh orang yang akan ditabalkan menjadi penerus pimpinan kerajaan dan keimanan Si Singamangaraja. Kepemimpinan Kharimatis harus ada pada setiap Si Singamangaraja, yang pada masa lampau, di yakini selalu syarat mutlak daripada kepemimpinan dalam kerajaan, oleh penduduk yang masih dipengaruhi oleh suasana magis dan mystis, Calon Si Singamaraja harus dapat mencabut PISO GAJA DOMPAK dari sarungnya, menurunkan hujan dan membuat tanda-tanda luar biasa (mukjizat).Persyaratan ini nyatanya tidak dapat dipenuhi oleh Ompu Parlopuk tetapi dapat dipenuhi oleh adiknya, yaitu Patuan Bosar. PISO GAJA DOMPAK itu ada sejak Si Singamangaraja I yaitu sekitar pertengahan abad XVI masehi. PISO GAJA DOMPAK adalah lambang kerajaan Si Singamangaraja. Keris itu bukanlah sembarang keris. Keris panjang ini adalah salah satu terpenting di kerajaan Si Singamangaraja yang di mulai dan berpusat di Bakara, ditepi Danau Toba, hanya sekitar 8 km dari Pulau Samosir yang indah itu.
Setelah melalui suatu proses yang berliku-liku, patuan Bosar pun, yang sebenarnya masih muda belia (sekitar 17 tahun) ditabalkan pada tahun 1875 menjadi Si Singamangaraja XII, karena ia mampu mencurahkan hujan pada musim kemarau yang parah waktu itu.
Selaku singa yang melampaui dan singa yang terlampaui “beliau mempunyai fungsi sebagai pengatur kerajaan manusia bermata hitam” di Sumatra. Ini ditambah lagi dengan fungsi kepemimpinannya dalam bidang agama, adat istiadat, hukum, ekonomi, pertanian pendidikan, kebudayaan dan militer. Jadi jelas bukan hanya sebagai PRIESTER KONING sebagaimana dikemukakan oleh pihak kolonial Belanda.
Si Singamangaraja bukanlah tokoh mitologis, melainkan tokoh historis yang pernah benar-benar hidup dan berjuang demi kepentingan rakyat ketika mengadakan perlawanan sengit terhadap Belanda.
Si Singamangaraja diakui sebagai raja dan imam besar (DATU BOLON) oleh semua suku Batak. Akan tetapi selain dia, rakyat masih mempunyai imam-imam di daerah- daerah dan kampung-kampung. Mereka inilah yang mempunyai hak untuk melakukan upacara pengorbanan dan pemujaan di tempat masing-masing, seperti pada saat sebelum dan sesudah anak lahir, waktu pemberian nama, pada pesta perkawinan dan upacara kematian.
Perang yang berlangsung selama 30 tahun di Sumatra Utara itu berakhir secara tragis, bukan bagi keluarga Si Singamangaraja XII dan rakyat Sumatra Utara, melainkan juga bagi seluruh rakyat dan bangsa Indonesia di seluruh Nusantara. Hal ini demikian mengingat bahwa perjuangan Raja Si Singamangaraja XII bukan saja demi kepentingan dirinya, atau kepentingan keluarganya sendiri, melainkan berupa perjuangan Nasional yang dilakukan bersama-sama dengan suku bangsa lain untuk melawan para penjajah Belanda yang datang merebut negeri dan kekayaan penduduk Indonesia.
Pada tanggal 17 Juni 1907, hari yang naas, Raja Si Singamangaraja XII telah gugur di tembak oleh anak buah Christoffel. Raja Si Singamangaraja XII tidak gugur sendirian. Bersama dengan beliau turut juga gugur dua orang putra kendungnya, para pejuang yang tidak kenal kata menyerah dalam kamusnya, yakni Patuan Nagari dan Patuan Anggi. Pun seorang putrinya yang berusia 17 tahun yang bernama Boru Lopian, seorang srikandi sejati yang selama ini dilupakan - turut juga tewas oleh berondongan peluru Belanda di suatu jurang yang ditumbuhi hutan rimba yang kelam, di Sindias di kaki gunung Sitopangan, kira-kira 9 - 10 km dari Pearaja, Sionomhudon, Tapanuli, Sumatra Utara. Seorang tokoh lain bernama Ompu Parlopuk, abang Si Singamangaraja XII, telah meninggal sebelumnya ketika mengadakan perang gerilya menghadapi Belanda. Permaisuri Si Singamangaraja XII, Boru Situmorang, menjelang tertembaknya Si Singamangaraja XII meninggal pula karena bergerilya di tengah hutan rimba Sumatra Utara. Bahkan cucunya yang sangat dicintainya, Pulo Batu, Putra Patuan Nagari telah menutup usia pada umur amat muda karena kelaparan ketika berkecamuknya perang gerilya dan dalam keadaan dikejar-kejar oleh Belanda. Ucapan terakhir Si Singamangaraja XII ketika gugur di jurang Sindas, Sitopangan, di Sumatra Utara ialah “AHU SI SINGAMANGARAJA”.
Dikutip dari :
1. AHU SI SINGAMANGARAJA Oleh : Prof. DR.W. Bonar Sidjabat
2. MAKNA WIBAWA JABATAN DALAM GEREJA BATAK Oleh : Dr. Andar M. Lumbantobing
PERNIKAHAN INSECT BATAK
Guru Tatea Bulan mempunyai sembilan orang anak, lima laki-laki dan empat perempuan yaitu, Raja Biak-biak, Tuan Sariburaja, Limbong Mulana, Sagalaraja (Malauraja), Boru Pamoras, Boru Pareme, Boru Biding Laut dan Natinjo.
Selanjutnya Raja Isumbaon mempunyai tiga orang anak yaitu Sorimangaraja, Raja Asi-asi dan Sangkarsomaling (Hutagalung, 1991:34)
Dari keturunan Raja Tatea Bulan terjadi perkawinan sumbang yaitu antara Tuan Sariburaja dengan adik kandungnya si Boru Pareme yang akhirnya menyebabkan perpecahan antara Sariburaja dengan adik-adiknya. Sariburaja memilih untuk melarikan diri ke hutan meninggalkan si Boru Pareme yang sedang hamil.
Si Boru Pareme tidak putus asa lalu mencarinya ke hutan. Di sana dia melahirkan putra yang sedang dikandungnya dan diberi nama Lontung atau dikenal kemudian Si Raja Lontung.
Dalam pengembaraan, Sariburaja kemudian menikah dengan Nai Mangiring Laut. Dari istri barunya ini lahirlah seorang anak yang bernama Borbor yang kemudian dikenal Si Raja Borbor.
Friksi dalam keluarga kecil ini menyebabkan perpecahan yang panjang antara Si Raja Lontung dengan Si Raja Borbor. Perselisihan tersebut berlanjut kepada keturunan masing-masing, dimana keturunan Raja Borbor kemudian beraliansi dengan keturunan Limbong Mulana, Sagalaraja dan Malauraja kontra keturunan Si Raja Lontung.
Karena itulah dalam kehidupan sosial berikutnya, aliansi keturunan Raja Borbor tersebut menggunakan panggilan "amangboru" yang lebih kurang berarti ipar dan tidak menggunakan tuturan seharusnya, yakni abang terhadap keturunan Si Raja Lontung.
Selanjutnya menurut A. Adnan Situmorang, Si Raja Lontung yang menikah dengan si Boru Pareme, yakni namborunya sendiri mendapat sembilan anak yakni Aritonang, Siregar, Simatupang, Situmorang, Toga Nainggolan, Toga Pandiangan. Toga Sinaga, Si Boru Panggabean, Si Boru makpandan. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh W. Hutagalung (1991:63)
Dengan terjadinya perkawinan sumbang atau kawin sedarah ini, maka dirasa sulit untuk menentukan posisi adat seperti "hula-hula", "dongan sabutuha" dan "borunya". Dengan kebuntuan ini, muncullah tokoh seperti Sorimangaraja putra dari Raja Isumbaon yang berinisiatif mendamaikan masalah perkawinan sumbang ini dengan mengambil beberapa keputusan yang pada akhirnya menjadi prinsip-prinsip adat dalam kebudayaan Batak yang diwarisi sampai sekarang.
Keputusan itu adalah:
Bahwa sesuatu masalah dapat dipecahkan dalam musyawarah untuk mendapat kesepakatan antara keturunan Si Raja Lontung, Borbor Bersatu dan Tuan Sorimangaraja.
2. Bahwa perkawinan sesama saudara adalah tabu. Tidak diperkenalkan terjadi dalam keturunan Si Raja Batak.
3. Bahwa segala "horja" dan bentuk peradatan, baru dapat berlaku apabila telah mendapat dukungan dari Raja Lontung, Borbor Bersatu dan Tuan Sorimangaraja. Ibarat tungku yang sama besar kokoh menampung periuk di atasnya. (Rajamarpodang, 1992:14)
Keputusan ini dilengkapi dengan peraturan-peraturan yang diabadikan dalam bentuk janji. Kemudian janji tersebut menjadi sumber hukum adat Batak yang disebut dengan Dalihan Na Tolu atau Tungku Nan Tiga. (Lihat: Lamhot Simarmata, Skripsi di IAIN Sumatera Utara, Fakultas Dakwah, Medan pada tahun 1997 dengan judul Pendayagunaan Dalihan Na Tolu Sebagai Sarana Pengembangan Dakwah di Kecamatan Harian Kabupaten Tapanuli Utara)
Dalam pemerintahan Sisingamangaraja, dikenal ada tiga pendetaraja yang menjadi penasehat politik dan adat bagi Dinasti Sisingamangaraja. Pertama adalah Ompu Palti Raja (selalu dijabat oleh marga keturunan Si Raja Lontung), Jonggi Manoar (dijabat oleh marga Borbor Bersatu biasanya Limbong atau Sagala) dan Baligeraja (yang selalu dijabat oleh keturunan Raja Isumbaon).
Tarik menarik pengaruh politik sering terjadi antara ketiga pendetaraja tersebut dalam hubungan dengan kedaulatan Sisingamangaraja. Pada pemerintahan Sisingamangaraja X terjadi friksi antara Sisingamangaraja X dengan Ompu Palti Raja saat putri Sisingamangaraja X yang bernama Nai Napatihan berkeinginan menikah dengan putra Ompu Palti Raja.
Nai Napatihan merupakan putri satu-satunya Sisingamangaraja X, dan putri pertama dari dinasti Sisingamaraja, di mana sejak Sisingamangaraja I sampai dengan yang kesembilan tidak pernah mempunyai anak perempuan. Hal ini dikaitkan sejarah akibat karma yang terjadi kepada Manghuntal, Sisingamangaraja I yang berseteru dengan namborunya yang juga bernama Nai Napatihan boru Sinambela. Perselisihan terjadi akibat kebijakan Sisingamangaraja yang terlalu pro kepada pihak miskin dan yang tertindas. Sebuah kebijakan yang tidak disukai oleh namborunya tersebut. Nai Napatihan akhirnya tewas dalam perang saudara dengan Sisingamangaraja I yang mendapat bantuan dari pasukan kavaleri penunggang gajah dari Kesultanan Barus.
Namun akhirnya, Sisingamangaraja dan keturunannya harus menerima kutukan alam saat semua keturunannya tidak pernah mendapat anak perempuan. Kutukan tersebut akhirnya bisa ditanggalkan pada Sisingamangaraja X, yang akhirnya mempunyai seorang putri dan diberi nama Nai Napatihan untuk menghormati Namboru S. M. Raja pertama yaitu Nai Napatihan.
Namun sayang, putri satu-satunya dan kesayangan tersebut akhirnya memilih menikah dengan putra Ompu Palti Raja dari marga keturunan Si Raja Lontung. Sisingamangaraja X khawatir dengan keamanan tahtanya apabila generasi Si Raja Lontung menikah dengan putrinya boru Sinambela akan menghasilkan persaingan politik yang berkepanjangan. Ketiga turunan di atas, yakni keturunan Si Raja Lontung, Borbor Bersatu dan Sumba terlibat dalam persaingan politik di berbagai daerah atau huta di tanah Batak. Lontung menguasai tanah Batak Selatan atau Tapanuli Selatan dan sebagian pulau Samosir, Borbor Bersatu menguasai tanah Batak Pesisir dan Sumba di pusat tanah Batak.
Akhirnya Nai Napatihan dan Suaminya yang putra pejabat lembaga Ompu Palti Raja tersebut, diungsikan secara santun oleh Sisingamangaraja X ke tanah Aceh atau tepatnya Singkil, agar tidak menjadi pesaingnya.
Dalam pengungsian lahirlah seorang anak yang bernama Pongkinangolngolan yang kemudian dikenal bernama Fakih Amiruddin, sesuai dengan kebiasaaan nama-nama Batak Singkil di sana.
Sejarah akhirnya berputar dimana Fakih Amiruddin ditakdirkan menjadi pemimpin sebuah pasukan Batak Padri yang datang dari tanah Batak selatan yang kemudian berseteru dengan Sisingamangaraja X di Bakkara. Fakih Amiruddin akhirnya memenangi pertempuran tersebut setelah seorang pasukannya dari marga Siregar berhasil menewaskan Sisingamangaraja X dan mendirikan pemerintahan Bataknya berpusat di Siborong-borong selama beberapa tahun. Dengan tewasnya Fakih Amiruddin atau yang dikenal dengan Tuanku Rao tersebut dalam pertempuran di Air Bangis melawan penjajah, maka kekuasaannya juga pudar di tanah Batak.
Ini adalah satu versi mengenai Fakih Amiruddin. Versi lain mengatakan bahwa dia sebenarnya marga Sinambela dari Ibu yang bernama Gana Sinambela putri Sisingamangaraja IX. Tapi pandangan ini sangat lemah karena putri kerajaan yang boru Sinambela hanya Nai Napatihan boru Sinambela, itupun baru pada era Sisingamangaraja X, akibat karma yang menimpa Dinasti Sisingamangaraja.
Versi lain mengatakan bahwa Ibunya adalah Nai Napatihan Sinambela yang menikah dengan seorang putra Aceh dan kemudian diusir dari tanah Batak. Ada juga versi lainnya yang mengatakan, dari sebuah disertasi sarjana Batak di UGM, bahwa Pongkinangolngolan bukanlah Tuanku Rao, tapi orang yang berbeda. Pongkinangolngolan bersama Tuanku Rao berseteru dengan Sisingamangaraja X dalam sebuah konstalasi politik saat itu.
Dimana Pongkinangolngolan yang orang batak penganut Islam dan Tuanku Rao bermaksud melakukan pembaharuan agama Islam di tanah Batak yang sudah banyak menganut Islam sejak abad ke-7 tapi berbau syiah, sinkretis dan adat. Pasukan Muslim Batak di bawah pimpinan Syarif Tanjung seorang panglima pasukan Sisingamangaraja X dan dengan dukungan Sisingamangaraja X, berhadapan dengan pasukan Batak Padri. Perang ini terjadi pada abad ke-19.
Menyimak Berbagai Analisa Dan Penelitian “Batak” Artinya Penunggang Kuda = Keberanian?
Sudah sejak lama sebutan (perkataan) Batak sebagai nama salah satu etnis di Indonesia diteliti dan diperbincangkan banyak orang asal kata atau pengertiannya. Bahkan melalui beberapa penerbitan suratkabar pada awal abad 20 atau juga masa sebelumnya, pernah terjadi polemik antara sejumlah penulis yang intinya memperdebatkan apa sebenarnya pengertian kata (nama) Batak, dan dari mana asal muasal nama itu. Di suratkabar Pewarta Deli no. 82 tahun 1919 misalnya, polemik yang paling terkenal adalah antara seorang penulis yang memakai nama samaran “Batak na so Tarporso” dengan J. Simanjutak. Keduanya saling mempertahankan pendirian dengan argumentasi masing-masing, serta polemik di surat kabar tersebut sempat berkepanjangan. Demikian pula di suratkabar keliling mingguan yang di terbitkan HKBP pada edisi tahun 1919 dan 1920, perbincangan mengenai arti sebutan Batak itu cukup ramai dimunculkan.
Seorang penulis memakai inisial “JS” dalam tulisan pendeknya di suratkabar Imanuel edisi 17 Agustus 1919, akhirnya menyatakan diri tampil sebagai penengah diantara silang pendapat tersebut. JS dalam tulisannya antara lain mengutip buku berjudul “Riwayat Poelaoe Soematra” karangan Dja Endar Moeda (alm) yang diterbitkan tahun 1903, yang pada halaman 64 cuplikannya sebagai berikut : “Adapoen bangsa yang mendoedoeki residetie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanya. Adapoen kata “Batak” itoe pengertiannya : orang pandai berkuda. Masih ada kata Batak yang terpakai, jaitoe “mamatak“, yang ertinya menaiki koeda. Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki (plesetan/red BONA) kepada bangsa itoe…”
keterangan serupa juga dikemukakan Dr. J. Warneck (Ephorus HKBP) dalam bukunya berjudul “Tobabataksch-Deutsche Woterbuch” seperti tertulis di halaman 26.
Menurut JS yang beralamat di Pangaribuan seperti tertulis di suratkabar Imanuel, tuan L.Th. Meyer juga menulis dalam bukunya berjudul “Maleisch Hollandsch Wordenboek”, pada halaman 37 : “Batak, Naam van een volksstamin in Sumatra…” (Batak adalah nama satu Bangsa di pulau Sumatra).
Keterangan itu dituturkan JS dalam tulisan pendeknya sebagai meluruskan adanya anggapan ketika itu seolah-olah perkataan Batak memberi pengertian terhadap suatu aliran/kepercayaan tentang agama tertentu yang dikembangkan pihak tertentu mendiskreditkan citra orang Batak.
Sejarah BATAK
Sejarah Orang Batak
Versi sejarah mengatakan Si Raja Batak dan rombongannya datang dari Thailand, terus ke Semenanjung Malaysia lalu menyeberang ke Sumatera dan menghuni Sianjur Mula Mula, lebih kurang 8 km arah Barat Pangururan, pinggiran Danau Toba sekarang. Versi lain mengatakan, dari India melalui Barus atau dari Alas Gayo berkelana ke Selatan hingga bermukim di pinggir Danau Toba.
Diperkirakan Si Raja Batak hidup sekitar tahun 1200 (awal abad ke-13). Raja Sisingamangaraja XII salah satu keturunan Si Raja Batak yang merupakan generasi ke-19 (wafat 1907), maka anaknya bernama Si Raja Buntal adalah generasi ke-20.
Batu bertulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof. Nilakantisasri (Guru Besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan COLA dari India menyerang SRIWIJAYA yang menyebabkan bermukimnya 1.500 orang TAMIL di Barus.
Pada tahun 1275 MOJOPAHIT menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar tahun 1.400 kerajaan NAKUR berkuasa di sebelah Timur Danau Toba, Tanah Karo dan sebagian Aceh.
Dengan memperhatikan tahun tahun dan kejadian di atas diperkirakan:
Si Raja Batak adalah seorang aktivis kerajaan dari Timur Danau Toba (Simalungun sekarang), dari Selatan Danau Toba (Portibi) atau dari Barat Danau Toba (Barus) yang mengungsi ke pedalaman, akibat terjadi konflik dengan orang-orang Tamil di Barus. Akibat serangan Mojopahit ke Sriwijaya, Si Raja Batak yang ketika itu pejabat Sriwijaya yang ditempatkan di Portibi, Padang Lawas dan sebelah Timur Danau Toba (Simalungun).
Sebutan Raja kepada Si Raja Batak diberikan oleh keturunannya karena penghormatan, bukan karena rakyat menghamba kepadanya.
Demikian halnya keturunan Si Raja Batak seperti Si Raja Lontung, Si Raja Borbor, Si Raja Oloan, dsb. Meskipun tidak memiliki wilayah kerajaan dan rakyat yang diperintah.
Selanjutnya menurut buku TAROMBO BORBOR MARSADA anak Si Raja Batak ada 3 (tiga) orang yaitu : GURU TETEABULAN, RAJA ISUMBAON dan TOGA LAUT. Dari ketiga orang inilah dipercaya terbentuknya Marga-marga Batak.
Sumber:
disarikan dari buku “LELUHUR MARGA MARGA BATAK, DALAM SEJARAH SILSILAH DAN LEGENDA” cet. ke-2 (1997) oleh Drs Richard Sinaga, Penerbit Dian Utama, Jakarta.
SIAPAKAH ORANG BATAK ?
Orang Batak terdiri dari 5 sub etnis yang secara geografis dibagi sbb:
1. Batak Toba (Tapanuli), mendiami Kabupaten Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah mengunakan Bahasa Batak Toba.
2. Batak Simalungun, mendiami Kabupaten Simalungun dan menggunakan Bahasa Batak Simalungun.
3. Batak Karo, mendiami Kabupaten Karo dan menggunakan Bahasa Batak Karo.
4. Batak Mandailing, mendiami Kabupaten Tapanuli Selatan dan menggunakan Bahasa Batak Mandailing.
5. Batak Pakpak, mendiami Kabupaten Dairi dan menggunakan Bahasa Pakpak.
Suku Nias yang mendiami Kabupaten Nias (Pulau Nias) mengatakan bahwa mereka bukanlah orang Batak karena nenek moyang mereka bukan berasal dari Tanah Batak. Namun demikian, mereka mempunyai marga-marga seperti halnya orang Batak.
Citra Keperkasaan
Menyimak beragam catatan tentang topik yang sama, ternyata pada umumnya kata Batak meyiratkan defenisi-defenisi tentang keberanian atau keperkasaan. Sebab menurut Amborsius Hutabarat dalam sebuah catatannya di suratkabar Bintang Batak tahun 1938 menyimpulkan, pengertian Batak sebagai orang yang mahir menaiki kuda memberi gambaran pula bahwa suku itu dikenal sebagai suku yang memiliki jiwa keras, berani, perkasa. Kuda merupakan perlambang kejantanan, keberanian di medan perang, atau kegagahan dalam menghadapi bahaya/rintangan.
Drs DJ Gultom Raja Marpodang menulis adanya teori mengatakan bahwa suku Batak adalah Si-Batak Hoda yang artinya suku pemacu kuda. Asal usul suku Batak berdasarkan teori adalah pendatang dari Hindia Belanda sekitar Asia Tenggara sekarang memasuki pulau Sumatera pada masa perpindahan bangsa-bangsa di Asia. (Buku Dalihan Natolu, Nilai Budaya Suku Batak, hal 32 cetakan 1992).
Drs DJ Gultom dengan bersusah payah telah melakukan serangkaian penyelidikan intensif seputar arti kata Batak, dengan membaca sejarah, legende, methologi, termasuk wawancara dengan orang-orang tua, budayawan dan tokoh adat.
Beberapa perkataan “batak” antara lain dalam bahasa Batak Pakpak Dairi berbunyi : “Mmas Batakn mahan gmgmmn laho mahan tabungn, biat ni kata mahan sungkunn mndahi kalak sipantas singg ddang radumn“. Maksudnya adalah bahwa mmas batak dijadikan warisan (homitan) dibuat menjadi tapak sirih, sudah sepantasnya tempat untuk bertanya itu adalah orang yang mengetahui. Penggertian kata mmas batak dalam umpasa itu disimpulkan sebagai serbuk emas dulangan menjadi emas murni atau logam mulia. Dengan demikian pengertian batakn pada masyarakat Dairi adalah asli, sejati, murni, atau mulia. Sebutan kata Batak pada masyarakat Dairi konon sangat bermakna, tak bisa sembarangan disebut, sehingga kata batak itu seperti disucikan.
Temuan perkataan “batak” pada Batak Karo antara lain adalah : Mbatak-mbatakken jenujung si Tongat kari berngi“. Maksudnya, nanti malam akan diadakan mbatak-mbatakken jenujung si Tongat. Masyarakat Karo berpandangan bahwa seorang manusia ada jenujungnya (junjungan) yang selalu mendampingi. Jenujung adalah roh yang mengikuti seseorang, dan sering membantu seseorang itu disaat dia terancam bahaya. Apabila jenujung seseorang meninggalkan atau tidak lagi mengikutinya alamat yang bersangkutan akan mendapatkan bahaya atau sakit-sakitan. Usaha agar jenujung seseorang kembali mengikutinya harus dengan melaksanakan upacara spritual. Itulah yang disebut orang Karo mbatak-mbataken. Dengan pengertian ringkas sebutan tersebut adalah suatu usaha suci agar seseorang tetap sehat kuat selamat sentausa. Masih ada ungkapan pada bahasa Karo berbunyi “Ibatakkenmin adah nda”, artinya bentuklah tempat itu. maksudnya apabila seseorang hendak mendirikan rumah, langkah pertama adalah meratakan tanah pertapakan didahului suatu kegiatan ritual agar rumah yang dibangun menjadi tempat yang sehat sejahtera bagi penghuninya. Itu dimaksud pula untuk pembuatan pundasi yang kuat agar rumah yang dibangun kokoh. Jadi pengertian ibatakken atau batak pada masyarakat Karo adalah usaha yang suci agar sehat dan kuat.
Adapun temuan perkataan “batak” pada bahasa Batak Simalungun, antara lain ” Patinggi ma batohon i, ase dear sabahtaon“. Artinya, tinggikanlah batohan agar bagus sawah kita ini. Sawah yang terletak di pinggir sungai atau di lereng gunung sering rusak karena banjir. Untuk mencegahnya, maka di pinggir sawah dibuat benteng yang kuat penahan serangan banjir. Itu sebabnya, ada ungkapan “patinggi ma batohan i, ase dear sabahtaon“. Jadi pengertian Batahon pada masyarakat Simalungun adalah tumpuan kekuatan untuk menahan bahaya serangan.
Di Pilipina konon ada satu pulau yang bernama Batac (huruf “c” dibelakang). Di pulau itulah terdapat masyarakat yang banyak memiliki persamaan budaya dan bahasa dengan orang Batak Toba di Sumatera Utara. Konon pengertian kata “batac” di sana juga mencerminkan makna sesuatu yang kokoh, kuat, tegar, berani, perkasa? Seperti pernah diturunkan dalam satu tulisan di media Liputan Bona Pasogit beberapa waktu lalu, orang Pilipina terutama yang berasal dari kawasan daerah Batac di sana, merasa berada di negaranya saat berkunjung ke Sumatera Utara. Mereka menemukan pula sejumlah perkataan yang sebutan dan artinya sama dengan yang ada di negaranya. Misalnya kata “mangan” (makan), “inong” (inang), “ulu” (kepala), “sangsang” (daging babi cincang dimasak pakai darahnya) dan banyak lagi.
Apakah ada pula hubungan kata Batak dengan “batu bata” atau batako (batu yang dibuat persegi empat memakai semen) yang digunakan untuk bangun-bangunan? Belum diketahui persis. Tapi arti kata “batu bata” dari “batako” juga dilukiskan sebagai bermaknaa kuat, kokoh, tahan lama. Sehingga bisa juga mendekati pengertian Batohan pada bahasa Simalungun.
Catatan yang penulis uraikan ini mungkin belum tentu sudah menjadi pengertian final tentang arti sebutan /kata Batak. Tapi berdasarkan berbagai catatan yang dikemukakan diatas, barangkali satu sama lain cukup mendekati untuk dirumuskan menjadi suatu kesimpulan. Apabila sebutan Batak itu berasal dari perkataan “mamatak” (penunggang kuda) kita mungkin bisa membayangkan kedekatan sejarah nama itu dengan karakter dan gaya hidup para leluhur di masa lampau yang diwarnai perjuangan, pertarungan, pertempuran, keberanian menghadapi berbagai tantangan demi mempertahankan eksistensinya.
Kuda selalu di ilustrasikan menjadi simbol keberanian, keperkasaan, keuletan dan jiwa kejuangan. Di jaman dulu, siapa tahu, orang Batak menggunakan kuda dalam merintis perkampungan ke daerah-daerah pedalaman, atau saat bertarung dengan musuh-musuhnya. Mungkin karena itu pula, lukisan Sinsingamagaraja XII oleh Agustin Sibarani dibuat menunggang kuda sehingga nampak lebih menekankan keperkasaan seorang tokoh pejuang. Sementara hingga saat ini di berbagai pelosok daerah terpencil di Tanah Batak, masih banyak penduduk yang menggunakan jasa kuda meskipun hanya sebatas pengangkutan barang.
Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.
Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.
Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia tersebut.